Rasulullah s.a.w. bersabda :

Sesungguhnya para ulama itu merupakan pewaris para Nabi, dan Nabi itu tidak meninggalkan dinar atau dirham sebaliknya para Nabi itu meninggalkan kepada kita akan ilmu. (Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi)

Imam Asyma'i berkata :

Seawal-awal ilmu adalah diam, keduanya mendengar dengan teliti, ketiga menghafal, keempat beramal dengannya dan kelima menyampaikan ilmu tersebut.

Imam Al-Ghazali berpesan :

Sesiapa yang memiliki ilmu lalu memanfaatkannya dan memberi manfaat kepada orang lain samalah seperti mentari yang menerangi dirinya dan orang lain sedangkan ia terus bersinar.

Sayyidina Ali r.a. berkata :

Janganlah dikau tangguhkan untuk melakukan sesuatu kebaikan hingga keesokan harinya, kerana mungkin keesokan hari yang mendatang kamu telah mati.

Sayyidina Abbas menasihati :

Sebaik-baik perkara kebajikan adalah yang disegerakan untuk melaksanakannya.

Monday, January 23, 2012

Kegilaan akan bijaksana




Manusia yang bijaksana mengambil sebuah daun kering
yang telah mati dan tersenyum dengan sedih.

“Sungguh indah ketika engkau masih bersatu dengan batangmu.
Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna
hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah
menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah.
Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai
pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir
yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan
bagi tanah.”

Dia tertawa dan menangis, tetapi bukan dari dalam dirinya.


Manusia yang terobsesi dengan kebijaksanaan tertawa kerana
penjelasannya sendiri.

Dia berkata, “Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan,
aku mencari~Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya
doktor yang dapat menyembuhkan kegilaanku.
Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini.
Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku.
Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku.
Berikanlah aku ubat rahmat, cinta dan kebijaksanaan~Mu
dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku.
Aku adalah budak~Mu di dunia ini.”

Hatinya terbuka, dan dia berserah diri kepada Tuhan.


[ Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen ]


Saturday, January 7, 2012

Wajahmu...



Mungkin kau berencana pergi,
seperti roh manusia
tinggalkan dunia membawa hampir semua
kemanisan diri bersamanya

Kau pelanai kudamu

Kau benar-benar harus pergi
Ingat kau punya teman di sini yang setia
rumput dan langit

Pernahkah kukecewakan dirimu?
Mungkin kau tengah marah
Tetapi ingatlah malam-malam
yang penuh percakapan,
karya-karya bagus,
melati-melati kuning di pinggir laut

Kerinduan, ujar Jibril
biarlah demikian
Syam-i Tabriz,
Wajahmu adalah apa yang cuba
diingat-ingat lagi oleh setiap agama

Aku telah memecah ke dalam kerinduan,
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini

Sang inti penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham

Pegang erat sakit istimewamu ini
Ia juga bisa membawamu pada Tuhan

Tugasku adalah membawa cinta ini
sebagai pelipur untuk mereka yang rindu kamu,
untuk pergi ke manapun kau melangkah
dan menatap lumpur-lumpur
yang terinjak olehmu

muram cahaya mentari,
pucat dinding ini

Cinta menjauh
Cahayanya berubah

Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kufikirkan

[ RUMI ]

Tuesday, January 3, 2012

Waktu



Waktu itu terbahagi dalam tiga bahagian iaitu :


Waktu yang menjadi milikmu,
waktu yang menjadi ancaman atas dirimu
dan waktu yang tidak menjadi kedua-duanya.


Adapun waktu yang menjadi milikmu adalah
waktu yang engkau makmurkan dengan zikir
kepada Allah dan berdakwah untuk
mengerjakan perintah~Nya.


Sedangkan waktu yang menjadi ancaman
atas dirimu adalah waktu yang engkau
makmurkan dengan melanggar perintah Allah.


Adapun waktu yang tidak menjadi kedua-duanya ialah
waktu yang tidak engkau makmurkan dengan sesuatu pun.


Bila engkau menggambarkan kekosongan waktu
dari apapun dengan segala amal perbuatan sebagai
kendali maka itu adalah niat baik yang membuat
segala perbuatan menjadi ladang ketaatan.


[ Habib Ahmad bin Hassan al-'Atthas ]